PROBOLINGGO – Radar-nasional.com - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Probolinggo terus berkomitmen memperkuat perekonomian masyarakat berbasis potensi daerah. Langkah nyata tersebut diwujudkan melalui program pemberdayaan ekonomi umat pada sektor pertanian kopi di Desa Sumberduren, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo.
Program strategis ini dijalankan melalui sinergi antara Baznas Kabupaten Probolinggo, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Desa Sumberduren, serta empat kelompok tani (poktan) setempat.
Kepastian program tersebut disampaikan saat Ketua Baznas Kabupaten Probolinggo H. Ahmad Muzammil bersama Komisioner Baznas Kiai Hamid melakukan kunjungan kerja ke Desa Sumberduren, Selasa (29/9/2026). Kehadiran jajaran pimpinan Baznas ini disambut hangat oleh pengurus UPZ dan anggota kelompok tani setempat.
Ketua Baznas Kabupaten Probolinggo H. Ahmad Muzammil menyampaikan bahwa fokus awal pendampingan diarahkan untuk memenuhi sarana produksi pertanian, terutama ketercukupan pupuk bagi tanaman kopi. Untuk tahap awal, Baznas menyalurkan bantuan modal usaha sebesar Rp10 juta.
"UPZ Desa Sumberduren yang sudah terbentuk kita optimalkan perannya untuk bermitra dengan kelompok tani. Bantuan pemberdayaan sebesar Rp10 juta ini diwujudkan dalam bentuk pembelian pupuk tanaman kopi yang disesuaikan dengan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), sehingga tepat sasaran," ujar Muzammil.
Lebih lanjut Muzammil menjelaskan, skema pemberdayaan ini tidak berhenti pada peningkatan hasil panen mentah. Baznas mendorong para petani agar mampu mengolah hasil panen menjadi produk kopi bubuk bernilai tambah (value-added product), mulai dari proses penyangraian (roasting), pengemasan, hingga tata kelola pemasaran.
Guna menjamin keberlanjutan usaha warga, Baznas Kabupaten Probolinggo juga berperan langsung sebagai penyerap (offtaker) hasil olahan kopi tersebut.
Produk kopi bubuk karya kelompok tani akan dimasukkan ke dalam paket bantuan sembako yang disiapkan Baznas, termasuk untuk kebutuhan penyaluran bantuan menjelang bulan Ramadan.
Baznas memperkirakan kebutuhan pasokan kopi bubuk untuk program bantuan tersebut mencapai sekitar 1,2 ton. Penyerapan langsung ini dinilai jauh lebih berdampak pada peningkatan pendapatan warga dibanding membeli produk pabrikan di pasaran umum.
"Daripada kita membeli di toko-toko umum, lebih baik kita memberdayakan dan menyerap hasil panen petani lokal. Kualitas dan kemasan kopi karya petani Sumberduren ini sudah bagus. Langkah ini menciptakan pola rantai ekonomi yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme)," jelas Muzammil.
Muzammil berharap skema perputaran modal usaha ini dapat dikelola secara transparan dan berlanjut melalui kesadaran berinfak, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat Krucil.
"Modal usaha ini diharapkan terus berputar untuk penguatan kapasitas kelompok tani. Apabila perkembangannya menunjukkan tren positif, Baznas siap memberikan dukungan pendanaan serta pendampingan lanjutan agar para petani kopi di Kabupaten Probolinggo semakin mandiri," pungkasnya.(mis)