PROBOLINGGO, – Radar-nasional.com - Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waluyo Jati Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, menyampaikan klarifikasi resmi menanggapi informasi yang beredar di masyarakat mengenai dugaan penelantaran pasien.
Direktur RSUD Waluyo Jati Probolinggo, Dr. dr. Hj. Yessi Rahmawati, Sp.OG., Subsp. Obginsos., M.H., M.Kes., menegaskan bahwa pihak rumah sakit telah memberikan penanganan medis secara maksimal dan multidisiplin sesuai dengan indikasi klinis pasien.
Atas nama manajemen dan seluruh keluarga besar RSUD Waluyo Jati Probolinggo, kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya pasien. Kami sangat memahami kesedihan dan rasa kehilangan yang dialami oleh pihak keluarga," ujar dr. Yessi dalam keterangan resminya di Kraksaan, Probolinggo.
Kronologi dan Penanganan Medis di RSUD Waluyo Jati
dr. Yessi menjelaskan bahwa pasien tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Waluyo Jati pada 8 September 2026 sekitar pukul 19.50 WIB. Pasien datang dalam kondisi cedera berat disertai penurunan kesadaran akibat trauma multipel.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, penangan medis langsung diberikan secara intensif. Tim medis melakukan serangkaian tindakan diagnostik dan intervensi darurat, antara lain:
• Pemeriksaan Penunjang: CT scan, rontgen, USG, serta pemeriksaan laboratorium.
• Tindakan Penyelamatan: Transfusi darah dan pemasangan Water Sealed Drainage (WSD) untuk mengatasi perdarahan di rongga dada.
• Tindakan Operasi: Operasi pembedahan serta pemasangan implan pada tulang tangan dan kaki yang mengalami patah tulang.
Penanganan pasien dilakukan secara komprehensif melalui kolaborasi tim multidisiplin yang terdiri dari empat dokter spesialis, yakni Spesialis Bedah Umum, Spesialis Bedah Saraf, Spesialis Orthopedi dan Traumatologi, serta Spesialis Anestesiologi.
Kendala Rujukan dan Perawatan Intensif ICU
Mengingat pasien mengalami cedera di bagian dada yang memerlukan penanganan khusus dari Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular (BTKV), tim RSUD Waluyo Jati telah berupaya melakukan koordinasi rujukan ke sejumlah rumah sakit di Malang, Surabaya, dan Jember. Namun, rumah sakit rujukan yang dihubungi saat itu tidak dapat menerima pasien dikarenakan kapasitas pelayanan dalam kondisi penuh.
"Demi menyelamatkan nyawa pasien, tim dokter RSUD Waluyo Jati mengambil langkah cepat untuk melakukan tindakan medis darurat sesuai kemampuan fasilitas dan kompetensi yang ada. Setelah menjalani operasi, pasien dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan pemantauan intensif," terangnya.
Meski seluruh upaya medis telah dikerahkan secara maksimal, kondisi klinis pasien memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Evaluasi Keamanan Area Steril Kamar Operasi
Terkait adanya insiden pihak keluarga yang memasuki ruang kamar operasi saat tindakan medis terhadap pasien lain sedang berlangsung, manajemen RSUD Waluyo Jati telah mendokumentasikan dan melakukan evaluasi internal.
Pihak rumah sakit mengingatkan bahwa kamar operasi merupakan area terbatas (restricted area) yang steril. Menjaga keamanan dan sterilitas kamar operasi sangat krusial demi pengendalian infeksi, keselamatan pasien, serta kelancaran proses pembedahan.
Komite Medik Lakukan Telaah Menyeluruh
Saat ini, Manajemen RSUD Waluyo Jati telah menugaskan Komite Medik untuk melakukan telaah menyeluruh terhadap seluruh kronologi pelayanan dan rekam medis pasien guna memastikan transparansi.
RSUD Waluyo Jati mengimbau masyarakat dan media massa agar bijak serta tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum proses verifikasi dan telaah rekam medis selesai dilakukan secara objektif.
"Kami berkomitmen untuk bersikap terbuka dan bertanggung jawab. Apabila dari hasil telaah ditemukan aspek pelayanan yang perlu diperbaiki, RSUD Waluyo Jati akan segera melakukan evaluasi demi meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien ke depan," pungkasnya.(mis)